Langsung ke konten utama

Kode Tuhan di Jumat Pagi


Lewat masjid dekat rumah. Jarum jam bahkan belum menunjukan pukul 8. Sudah ada serombongan bapak-bapak memakai pakaian gamis, bersarung dan bersongkok. Aku sapa. Aku yakin mereka merapat ke masjid. Entah sekedar bersih-bersih atau sambil berdzikir sambil menunggu waktu sholat jumat. Ada saja cara Tuhan memberi kode kepada umatnya lewat umatnya yang lain. Kenakanlah pakaian terbaik di ibadah sholat jumat & datanglah diawal waktu. Dari serombongan orang tersebut aku jadi ingat bahwa hari ini adalah hari Jumat. Hari dimana waktu dzuhur para muslim akan memenuhi masjid.

 

Barusan dari toilet umum. Aku isi bak airnya karena tadinya kosong. Air yang mengalir sangat kecil. Aku tunggu sampai penuh. Cukup lama tapi tak apa. Hitung saja aku memudahkan hajat orang yang nanti akan memakai toilet setelahku. Ternyata sekedar menyalakan keran air cukup berat bagi sebagian orang. Jumat pagi. Ada saja cara tuhan untuk memberi kode kepada umatnya untuk mengais pahala sebanyak mungkin dihari Jumat. Entah seberapa banyak pahala yang aku dapatkan dari sekedar mengisi air di bak yang kosong.

 

Sekedar melepas penat, aku menepi mencari secangkir kopi. Datang seorang anak kecil mengemis uang bersama ibunya. Aku beri seribu rupiah. Tak lama setelah itu datang seorang pengemis laki-laki tua. Sambil membawa wadah plastik transparan untuk meminta sedekah. Aku beri seribu lagi. Paling tidak sudah enam kali seribu sudah tumpas. Jumat pagi. Ada saja cara manusia menafsirkan kode dari Tuhan bahwa carilah rejeki di hari Jumat.

 

Cara Tuhan berkomunikasi dengan umatnya memang tidak literal, langsung. Manusia sebagai umatnya hanya berusaha menafsirkan. Cara tafsirnyapun juga unik dengan berbagai gaya pandang. Aku perhatian kepada hal-hal kecil. Menafsirkan/menerjemahkan kode Tuhan lewat permasalahan hidup dengan lebih positif. Jika aku hanya fokus terhadap hal-hal yang bersifat negatif, pusing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Kebiasaan Baru: Istri Situbondo

Situbondo adalah Kota kelahiran Irma Anggrayni (istri). Kota yang mempunyai julukan kota santri ini cukup asing buatku karena adat, kebiasaan, bahasa yang berbeda dengan Solo maupun Jember. Meskipun sudah lama mengenal Irma tapi ternyata ketika berumah tangga / tinggal serumah ada saja hal-hal baru yang aku temukan. Hari ini (ketika pesta ikan bersama "Sulap") aku menyadari bahwa ternyata ada kebiasaan baru yang selama ini aku tidak sadari. Berikut adalah 5 kebiasaan baruku mempunyai Istri orang Situbondo.   1. Telo’ lemma Telo’ lemma adalah sebutan bagi penutur bahasa Madura yang secara harfiah berarti 35. Arti sebenarnya aku juga tidak tahu juga sih. Mengingat Irma (istri) adalah orang Situbondo maka sudah menjadi hal yang biasa ketika istri bernyanyi (ngomel) telok lemanya keluar. Dia seraing kali menggunakan bahasa madura dibandingkan bahasa Indonesia.   2. *do tinggi Telok lema cenderung bernada tinggi ketika berbicara. Menggunakan nada tinggi tapi bukan bert...

Suasana Idul Adha 1443H

Minggu, 10 Juli 2022. Hari ini adalah bertepatan dengan hari Idul Adha. Hari dimana mayoritas umat muslim merayakan hari besar agama Islam. Hari ini ditandai dengan kumandang takbir di setiap masjid dan mushola. Tidak hanya takbir tapi di sudut-sudut masjid akan ada pemotongan hewan qurban. Sapi dan kambing adalah hewan menjadi hewan yang umum disembelih. Dua tahun yang lalu di hari seperti ini aku menjadi panitia pemotongan hewan qurban. Sekarang setelah menempati rumah sendiri aku kehilangan job desk. Belum ada kegiatan pemotongan hewan qurban karena jumlah warga perumaham masih sedikit.   Unjung-unjung ke rumah saudara di Baturaden sudah menjadi agenda tetap setelah sholat Ied. Beliau sudah melaksanakan sholat pada hari sebelumnya tapi karena aku dan istri baru sholat hari ini maka baru kita kunjungi. Lebaran tahun ini memang tidak sama. Arab saudi dan warga Muhammadiyah pada khususnya melaksanakan Idul Adha hari Sabtu sedangkan pemerintah menetapkan hari minggu. Selain mene...