Beberapa tahun yang lalu gue mulai menulis untuk blog yang pada dasarnya juga dipelajari secara tidak sengaja karena pada saat itu sedang ‘boomingnya’ blog. Memang untuk menulis blog baru dimulai tetapi untuk menulis entah itu puisi singkat, ungkapan perasaan, atau bahkan surat cinta yang nggak pernah tersampaikan’pun sudah cukup lama. Dibilang kumpulanpun sebenarnya juga sudah banyak, walaupun sudah hilang disana-sini. Gue suka nulis karena mungkin disebabkan karena gue juga suka baca tetapi permasalahan yang paling utama adalah gue nggak punya dasar-dasar Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Itu mungkin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gue selalu takut untuk memperlihatkan tulisan gue kepada orang-orang disekitar gue, bahkan terkadang yang di’otak itu begitu indah dan bagus untuk cerita tetapi begitu ditulis, terdengar begitu hambar dan akhirnya “stuck” sampai tak ada ending.
Semester ketiga kemaren gue mulai lagi nulis di’blog yang berbeda dan meyakini gue bakala kembali eksis dibidang ditulis-menulis ini, tetapi sama saja “stuck” dan hanya berjalan selama beberapa bulan saja. Kembali muncul permasalah waktu dan ide yang sepertinya kembali menjadi permasalahan yang baru buat gue. Yeah’, im not good enough on writing someting, i’think! Jadi gue nyerah dan berhenti untuk menulis blog, tetapi itu hanya sebuah pemberhentian sementara sepertinya karena pada hari Senin, 05-02-2012 pencerahan baru kembali muncul. Dari seorang dosen writing yang notabene menjadi dosen wali gue juga. Beliau menyampaikan bahwa jangan takut untuk menulis, tulis saja apa yang kamu ingin tulis. Urusan salah ataupun yang lainnya urusan belakangan, yang penting kamu telah menyampaikan apa yang ada di’kepalamu, di’hatimu ataupun apa yang ada di’sekitarmu. Semuanya adalah proses, kamu menulis adalah sebuah kebebasan dan kreatifitas yang akan membentuk bagaimana gaya/cara tulisan kamu.
Dengan semangat baru, maka ini adalah tulisan pertamaku untuk melengkapi dan mengisi blog yang selama beberapa tahun belakangan ini hanya bisa gue lihat tanpa gue isi. Sebuah ketakutan besar akan kritikan dan dengan kritikan tersebut sekarang gue yakin, mungkin gue akan menemuan pencerahan-pencarahan yang lain yang nantinya akan memperbaiki tulisan-tulisan gue selanjutnya.

Komentar
Posting Komentar