Langsung ke konten utama

Sholat Jumat di Situbondo


Ibu Bumi masih belum pulih dari apa yang mereka sebut dengan virus corona atau Covid 19. Pembatasan jarak dan pembatasan sosialisasi diterapkan, bahkan ibadah juga ada SOPnya. Hari ini (Jumat, 01/05/20) aku menunaikan ibadah sholat Jumat di Masjid Al Abror Situbondo. Dari yang aku perhatikan, antusias jama'ah sholat Jumat masih tinggi tapi mestinya bisa lebih dari ini. Biasanya ketika waktu sudah mendekati pukul 11.30 jalan-jalan sudah ramai pencari berkah Jumat. Masjid besar hingga kecil, kota maupun desa-desa tidak ada yang sepi. Tidak jarang jama'ah harus sampai meluber sampai ke luar masjid. Bagi seorang muslim, sholat Jumat bahkan sifatnya wajib-fadhu-a must. Sekarang? Bahkan bagi sebagian muslim yang taat, sholat Jumat bisa diganti dengan sholat Dzuhur di rumah. Himbauan oleh ulama besar sudah menggema sampai ke daerah.

Siang itu aku sampai di parkiran masjid Al Abror pukul 11.30. Seperti biasa sepeda motor tertata rapi di pinggiran alun-alun. Petugas parkir terlihat tidak memakai masker, sebagian besar jamaah masjid juga tidak memakai masker. Entah karena himbauan pemerintah kota yang kurang tegas atau memang masyarakatnya yang tambeng tapi sepertinya masker belum menjadi kebutuhan yang pokok. Memasuki halaman masjid tidak ada tulisan khusus tentang protokol pencegahan Covid 19 tetapi begitu masuk masjid ternyata takmir masjid tidak menyediakan karpet. Biasanya terdapat karpet untuk kenyamanan dan kerapian shaf tapi himbauan pemerintah untuk meniadakan karpet masjid telah dilaksanakan oleh takmir masjid. Shaf yang biasanya rapat juga sekarang sudah diberi jarang minimal 1 meter. SOP pencegahan Covid 19 dalam masjid sudah terpenuhi dan ini bagus.

Bagi aku sendiri, aku bersyukur masih bisa sholat Jumat berjamaah di masjid dan seharusnya hal ini bisa diikuti oleh daerah-daerah yang memiliki indikator minim pandemi. Aku pikir Euforia Covid 19 seharusnya bisa ditekan dengan melaksanakan prosedur penyebaran pandemi. Masyarakat tidak menganggap enteng pandemi Covid 19, buktinya di daerah-daerah telah dibangun portal dan pos pemeriksaan suhu badan. Jam malam untuk pembatasan kegiatan malam juga sudah dilaksanakan. Maka jika masih ada masyarakat dengan mindset yang salah, pemerintah daerah, tokoh agama dan tokoh masyarakat yang harus menjadi ujung tombak edukator bahaya Covid 19.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Kebiasaan Baru: Istri Situbondo

Situbondo adalah Kota kelahiran Irma Anggrayni (istri). Kota yang mempunyai julukan kota santri ini cukup asing buatku karena adat, kebiasaan, bahasa yang berbeda dengan Solo maupun Jember. Meskipun sudah lama mengenal Irma tapi ternyata ketika berumah tangga / tinggal serumah ada saja hal-hal baru yang aku temukan. Hari ini (ketika pesta ikan bersama "Sulap") aku menyadari bahwa ternyata ada kebiasaan baru yang selama ini aku tidak sadari. Berikut adalah 5 kebiasaan baruku mempunyai Istri orang Situbondo.   1. Telo’ lemma Telo’ lemma adalah sebutan bagi penutur bahasa Madura yang secara harfiah berarti 35. Arti sebenarnya aku juga tidak tahu juga sih. Mengingat Irma (istri) adalah orang Situbondo maka sudah menjadi hal yang biasa ketika istri bernyanyi (ngomel) telok lemanya keluar. Dia seraing kali menggunakan bahasa madura dibandingkan bahasa Indonesia.   2. *do tinggi Telok lema cenderung bernada tinggi ketika berbicara. Menggunakan nada tinggi tapi bukan bert...

Kode Tuhan di Jumat Pagi

Lewat masjid dekat rumah. Jarum jam bahkan belum menunjukan pukul 8. Sudah ada serombongan bapak-bapak memakai pakaian gamis, bersarung dan bersongkok. Aku sapa. Aku yakin mereka merapat ke masjid. Entah sekedar bersih-bersih atau sambil berdzikir sambil menunggu waktu sholat jumat. Ada saja cara Tuhan memberi kode kepada umatnya lewat umatnya yang lain. Kenakanlah pakaian terbaik di ibadah sholat jumat & datanglah diawal waktu. Dari serombongan orang tersebut aku jadi ingat bahwa hari ini adalah hari Jumat. Hari dimana waktu dzuhur para muslim akan memenuhi masjid.   Barusan dari toilet umum. Aku isi bak airnya karena tadinya kosong. Air yang mengalir sangat kecil. Aku tunggu sampai penuh. Cukup lama tapi tak apa. Hitung saja aku memudahkan hajat orang yang nanti akan memakai toilet setelahku. Ternyata sekedar menyalakan keran air cukup berat bagi sebagian orang. Jumat pagi. Ada saja cara tuhan untuk memberi kode kepada umatnya untuk mengais pahala sebanyak mungkin dihari ...

Titik Kemacetan

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah yang perlu ditindaklanjuti di Jember adalah masalah kemacetan. Masalah tersebut dirasa semakin lama semakin parah saja karena pemerintah daerah seperti menutup mata atas masalah kemacetan tersebut. Kalaupun ada penanganan itupun hanya sebatas penempatan anggota polisi dibeberapa titik kemacetan. Pada dasarnya titik kemacetan yang lumayan parah dan setiap hari selalu terjadi adalah di lingkungan sekolah yang dekat dengan jalan raya. Sebenarnya yang perlu ditinjau ulang adalah bagaimana sebenarnya tata kota / rencana dasar kota yang apakah kurang tepat sehingga menyebabkan kemacetan yang parah.   Kemacetan di lingkungan sekolah adalah masalah seharusnya segera ditangani dan segera di tindak lanjuti oleh pemerintah daerah maupun sekolah. Beberapa sekolah atau mungkin lebih dari 80% sekolah berada dipusat kota jember dan hal itu yang menyebabkan kemacetan cukup parah. Entah disengaja maupun tidak tetapi selama kurang lebih satu tahun i...