Langsung ke konten utama

Pengalamanku Menggunakan BPJS


Part 1

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan sedangkan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program jaminan kesehatan terbaru yang menggunakan sistem asuransi. Artinya, seluruh warga negara Indonesia harus menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan kesehatan di masa depan. Ada perbedaan antara JKN dan BPJS. JKN adalah nama programnya sedangkan BPJS adalah badan penyelenggara yang pelaksanaannya diawasi oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Singkatnya, Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS menggantikan program jaminan kesehatan yang sebelumnya dijalankan oleh PT Askes dan juga PT Jamsostek.

 

Aku pertama kali mengenal program BPJS ketika aku bekerja dibawah naungan sebuah CV di Jember. Sekitar tahun 2014 aku mendaftar salah satu programnya dan alhamdullilah sudah merasakan manfaatnya. Dua kali aku jatuh sakit dan keduanya terkover oleh program dari pemerintah ini. Sekitar periode 2015 aku pernah sakit usus buntu dan diharuskan untuk operasi. Tentu bagi pendatang yang jauh dari orangtua aku cukup bingung. Syukurnya pada saat itu perusahaan mengkover iuran BPJS sehingga tidak ada biaya yang ditanggungkan kepadaku. 2017 aku juga sakit untuk yang kedua kalinya. Hepatitis mengharuskan aku untuk menginap sekitar tujuh hari di rumah sakit Jember Klinik. Meski rumah sakit tersebut adalah termasuk yang terbaik di kota Jember tapi ternyata BPJS juga bisa digunakan. Meskipun aku menggunakan program BPJS pelayanan yang aku rasakan sangat memuaskan. Itu yang aku rasakan, sampai tiba rasanya ketika aku mendapatkan pelayanan di RSUD.

 

Waktu itu istri harus mendapatkan pelayanan khusus di RSUD. Kami dirujuk dari RS JK ke RSUD karena alat di rumah sakit tersebut kurang memadai. Pada saat itu kami masih menawar, apa ada RS lain selain RS (rujukan) tersebut? Dan ternyata tidak. Kami mengikuti saja apa yang terbaik sehingga kami pada akhirnya mendapatkan pelayanan di RSUD. Ternyata model pelayanannya memang berbeda. Ada banyak sekali dokumen yang harus diurus dan tidak di satu tempat. Doumen yang saya terima juga tidak singkron antara satu dengan yang lain. Misal, tanggal lahir istri yang berbeda anatar dokumen A dan dokumen B. Tentu ini menjadi catatan tersendiri bagi aku yang mendapatkan pengalaman ini. Harapannya sih kedepannya pelayanan bisa menjadi semakin baik dan tersingkronisasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Kebiasaan Baru: Istri Situbondo

Situbondo adalah Kota kelahiran Irma Anggrayni (istri). Kota yang mempunyai julukan kota santri ini cukup asing buatku karena adat, kebiasaan, bahasa yang berbeda dengan Solo maupun Jember. Meskipun sudah lama mengenal Irma tapi ternyata ketika berumah tangga / tinggal serumah ada saja hal-hal baru yang aku temukan. Hari ini (ketika pesta ikan bersama "Sulap") aku menyadari bahwa ternyata ada kebiasaan baru yang selama ini aku tidak sadari. Berikut adalah 5 kebiasaan baruku mempunyai Istri orang Situbondo.   1. Telo’ lemma Telo’ lemma adalah sebutan bagi penutur bahasa Madura yang secara harfiah berarti 35. Arti sebenarnya aku juga tidak tahu juga sih. Mengingat Irma (istri) adalah orang Situbondo maka sudah menjadi hal yang biasa ketika istri bernyanyi (ngomel) telok lemanya keluar. Dia seraing kali menggunakan bahasa madura dibandingkan bahasa Indonesia.   2. *do tinggi Telok lema cenderung bernada tinggi ketika berbicara. Menggunakan nada tinggi tapi bukan bert...

Kode Tuhan di Jumat Pagi

Lewat masjid dekat rumah. Jarum jam bahkan belum menunjukan pukul 8. Sudah ada serombongan bapak-bapak memakai pakaian gamis, bersarung dan bersongkok. Aku sapa. Aku yakin mereka merapat ke masjid. Entah sekedar bersih-bersih atau sambil berdzikir sambil menunggu waktu sholat jumat. Ada saja cara Tuhan memberi kode kepada umatnya lewat umatnya yang lain. Kenakanlah pakaian terbaik di ibadah sholat jumat & datanglah diawal waktu. Dari serombongan orang tersebut aku jadi ingat bahwa hari ini adalah hari Jumat. Hari dimana waktu dzuhur para muslim akan memenuhi masjid.   Barusan dari toilet umum. Aku isi bak airnya karena tadinya kosong. Air yang mengalir sangat kecil. Aku tunggu sampai penuh. Cukup lama tapi tak apa. Hitung saja aku memudahkan hajat orang yang nanti akan memakai toilet setelahku. Ternyata sekedar menyalakan keran air cukup berat bagi sebagian orang. Jumat pagi. Ada saja cara tuhan untuk memberi kode kepada umatnya untuk mengais pahala sebanyak mungkin dihari ...

Suasana Idul Adha 1443H

Minggu, 10 Juli 2022. Hari ini adalah bertepatan dengan hari Idul Adha. Hari dimana mayoritas umat muslim merayakan hari besar agama Islam. Hari ini ditandai dengan kumandang takbir di setiap masjid dan mushola. Tidak hanya takbir tapi di sudut-sudut masjid akan ada pemotongan hewan qurban. Sapi dan kambing adalah hewan menjadi hewan yang umum disembelih. Dua tahun yang lalu di hari seperti ini aku menjadi panitia pemotongan hewan qurban. Sekarang setelah menempati rumah sendiri aku kehilangan job desk. Belum ada kegiatan pemotongan hewan qurban karena jumlah warga perumaham masih sedikit.   Unjung-unjung ke rumah saudara di Baturaden sudah menjadi agenda tetap setelah sholat Ied. Beliau sudah melaksanakan sholat pada hari sebelumnya tapi karena aku dan istri baru sholat hari ini maka baru kita kunjungi. Lebaran tahun ini memang tidak sama. Arab saudi dan warga Muhammadiyah pada khususnya melaksanakan Idul Adha hari Sabtu sedangkan pemerintah menetapkan hari minggu. Selain mene...